Semangat Melayani Sambil Bernyanyi

Waktu itu, hujan membasahi kota Jakarta. Lebat. Deras. Basah kuyup. Saya menerobos nekat walau sadar pakaian kerja akan basah, meski sudah memakai jas hujan.  Saya ingin buru-buru sampai. Ingin datang tepat waktu. Ya. Kamis, adalah waktu latihan Caecilia. Jam 7 malam. Entah kenapa saya tidak ikut berhenti di dalam terowongan, atau halte pinggir jalan, seperti orang lain. Saya memutuskan jalan terus. Tidak ingin terlambat.

Sampai di ruang latihan, celana dan baju saya seperti habis kecebur kali, seluruh tubuh basah, termasuk pakaian dalam. Lantas saya duduk.

Seorang teman di sebelah saya, suaranya tenor, memperhatikan saya dan berkata,

“Lo ga bawa baju ganti.

Saya jawab, “Ga”

“Udah tahu naek motor, mestinya bawa baju cadangan, kaos kek.”

“Sini gue pinjemin baju”, katanya sambil mengajak saya keluar ruangan.

Saya mengikutinya dari belakang menuju ke halaman parkir Katedral. Bagian belakang mobilnya dibuka dan diambilah kaos, dipinjamkan pada saya. “Nih, ganti dulu” Senangnya bisa mengganti baju yang basah kuyup. Latihan pun menjadi lebih tenang dan nyaman, meski celana dan pakaian dalam masih saja basah.

Sekilas cerita di atas, sebuah pertolongan sederhana ini masih saya ingat sampai sekarang. Mungkin teman saya yang baik hati tadi sudah lupa peristiwa itu, tetapi kaos pinjaman yang sudah saya kembalikan, telah memberikan goresan cerita dalam perjalanan saya, 10 tahun, sebagai anggota Paduan Suara St. Caecilia Katedral Jakarta, yang tahun ini mencapai usianya ke-150 tahun.

Jika menengok kembali, memang ada saatnya waktu latihan rutin menjadi begitu berat, dan penuh perjuangan. Jalanan macet, lagi ga enak badan atau sakit, hujan deras, dan lain-lain, menjadi alasan kuat buat ijin tidak hadir. Ini semua tantangan dalam diri yang saya hadapi, tetapi dengan nekat, maju terus, jalan terus, basah kuyup, saya tetap melangkah masuk ke ruangan latihan. Saya ingin berlatih, agar siap melayani. Sederhana saja. Supaya saat tugas misa mingguan, misa pernikahan, atau konser, saya siap sedia melayani. Pelayanan disertai persiapan, latihan, dan belajar, memberikan hasil yang dapat dirasakan semua orang, oleh saya maupun umat yang mendengarkan saya bernyanyi.

Komitmen setia melayani melalui nyanyian akan saya terus perjuangkan, seperti waktu itu, cerita hujan, dalam perjalanan pelayanan saya. Tuhan ingin mengatakan kepada saya, selalu ada bantuan, pertolongan bila kamu membutuhkannya. Ada orang baik, seperti teman saya itu, yang peduli dan membuat kita, jalan terus, tetap latihan, terus melayani.

Saya yakin Anda pun bisa dan sanggup menempuh tantangan dan terus semangat dalam melayani di paduan suara dimanapun Anda berada. Tuhan memberkati karya pelayanan kita semua.

Viva PS St. Caecilia Katedral Jakarta.

Selalu semangat melayani sambil bernyanyi!

November 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s