Pulang Kampung

Istilah pulang kampung atau mudik akrab di telinga menjelang Hari Raya Idul Fitri. Setiap orang yang adu nasib di Jakarta telah mencari tiket pulang sejak  satu bulan, bahkan lebih sebelum Hari Lebaran. Semua ingin pulang ke kampung halaman tempat asal mereka. Pulang kampung telah menjadi semacam tradisi tiap satu tahun sekali. Meski perjalanan panjang, menempuh kemacetan dan padatnya lalu lintas mudik, pemudik menjalaninya dengan penuh semangat  dan sukacita.

Meski tidak ikut melakukan tradisi tersebut, saya merasakan dampak ketika semua orang pulang kampung.

Saya mendapatkan kesempatan melalui jalan-jalan ibukota lebih lengang, sepi tanpa kepadatan berarti. Di Hari Raya Lebaran, warga Jakarta yang tidak mudik bisa ikut merasakan betapa nyaman melintas di jalan protokol di kawasan Thamrin dan Sudirman.

Selain itu beberapa teman mulai cerita soal pembantu yang pergi tak pernah kembali. Sudah menjadi kebiasaan bahwa pembantu rumah tangga mayoritas menjadi pemudik yang memadati jalur Pantai Utara atau Selatan Jawa dalam rangka pulang kampung. Mereka umumnya berasal dari berbagai daerah di Jawa. Tapi entah kenapa banyak pembantu yang tidak kembali ke majikan mereka setelah pulang kampung. Mungkin saat yang tepat pikir mereka untuk ganti majikan setelah Lebaran selesai. Hasilnya, teman-teman saya jadi repot cari informasi soal pembantu.

Dampak lain adalah ikut icip-icip berbagai macam hidangan khas saat Lebaran. Ketupat, Opor Ayam, Sambal Goreng Kentang, Buncis dan Ati ampela dan Kerupuk, termasuk kue-kue lezat, menjadi teman saat bersilaturahmi ke tempat keluarga, dan kerabat. Tetangga kiri dan kanan pun kerap mengirimkan serantang menu makanan khas Lebaran ke rumah saya. Ah lezatnya!

Selain itu biasanya anak-anak remaja atau anak-anak kecil diberi uang oleh orang tua mereka atau paman dan bibi saat mereka berkunjung. Menarik kan bisa mengumpulkan uang dari beberapa tempat saat Lebaran datang.

Lepas dari itu semua, pulang kampung saya maknai sebagai sarana mengingat asal kita, tempat di mana kita mengawali langkah hidup. Setiap orang yang merantau hendaknya ingat kampung halaman, terutama ingat akan orang tua yang membesarkan mereka. Tradisi pulang kampung menjadi kesempatan baik menjalin kembali hubungan komunikasi yang jarang dilakukan lagi, atau mungkin terputus setelah sekian lama mengadu nasib di ibukota.

Lagipula memang saat yang tepat jika di hari yang fitri setiap orang kembali mengingat kembali asal mereka. Membersihkan diri dengan hati yang penuh sukacita merayakan Lebaran bersama orang tua, keluarga dan kerabat.

Selamat Pulang Kampung.

Selamat Merayakan Lebaran!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s