Belajar dari Supir Taksi

Setiap hari saya selalu belajar dari apa saja, siapa saja, dan di mana saja. Dunia dan pengalaman hidup adalah kelas gratis dengan pelajaran berkualitas nomor satu yang wajib kita ikuti setiap hari. Dunia selalu menjadi kelas bagi saya untuk terus belajar. Asalkan bersikap terbuka dan mau belajar pasti kita akan mendapatkan banyak hal. Bayangkan. Setiap hari, setiap saat!

Hari ini saya belajar mengenai kepedulian merawat orang tua dan bersabar. Bukan dari buku atau pengalaman diri sendiri tetapi dari seorang supir taksi. Belajar dari pengalamannya memperhatikan dan merawat orang tua, bahkan mertuanya.  Kakak iparnya suatu waktu pernah ia ingatkan soal ini. Namun sayang, kakak iparnya ini tak mau mendengarkan, alih-alih lantaran pendidikannya yang rendah. Sama halnya dengan adik dan kakaknya yang menurutnya tidak mempedulikan orang tua. Tak sepeser uangpun yang diberikan mereka pada orang tua. Bahkan per orang cuma sepuluh ribu rupiah pun tidak ada. Menurutnya lagi mereka sibuk dengan harta dan hidup mereka dan lupa dengan orang tua. Ketika sakit dan saat meninggal dunia pun supir taksi ini yang merawat orang tuanya, sendirian, tanpa bantuan kakak atau adiknya.

Saya jadi diingatkan melalui pengalaman supir taksi tadi soal mempedulikan orang tua. Mungkin karena alasan pekerjaan dan rumah tangga sendiri selepas pernikahan, kita lupa pada orang tua. Mungkin juga karena buta harta, karir dan lainnya,  kita jadi lupa berkunjung ke rumah orang tua, rumah tempat kita dibesarkan, tempat kita mendapatkan perlindungan.  Kita lupa di rumah kita ada orang tua yang masih perlu kita perhatikan.

Bagi supir taksi yang saya ceritakan ini, merawat dan memperhatikan orang tua adalah penting. Meski orang tua sudah meninggal ia selalu sempatkan berkunjung ke kuburan, berdoa dan memohon maaf. Ini rupanya resepnya dalam hidup hingga menurutnya rejeki terus mengalir. Mau sukses seperti apa, jangan lupa sama orang tua. Demikian ia mengatakannya pada saya.  Dalam hati saya berterima kasih pada pak supir karena diingatkan mengenai kepedulian pada orang tua.

Merawat dan memperhatikan memang membutuhkan kesabaran. Sama seperti kita kecil, ketika orang tua merawat dan mengasuh kita. Orang tua sungguh sabar melakukan ini semua. Dari pengalaman supir taksi ini saya ingat orang tua saya. Betapa mereka seperti supir taksi ini kerja keras demi anak-anaknya. Demi saya, demi saya sekolah hingga mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari orang tua. Bagaimana saya akhirnya bekerja dan bisa hidup sendiri tak lepas dari dukungan mereka, moril, materiil, dan juga doa mereka buat saya.

Saya bersyukur ayah dan ibu saya masih ada dan saya masih punya kesempatan untuk mempedulikan mereka, merawat dan memperhatikan mereka, sama seperti saya dirawat dan diasuh dari kecil. 

Saya lantas ingin cepat-cepat pulang dan bertemu mereka. Mendengarkan mereka. Belajar dari kisah-kisah mereka tentang hidup.

One thought on “Belajar dari Supir Taksi

  1. Btw kata ‘contreng’ itu ga ada lho di Kamus Besar Bahasa indonesia, lebih tepat pake kata ‘centang’. Lain kali pemerintah harus cek kamus dulu kali ya biar bisa menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benarrr.. heheee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s