Touch The Heart

touch the heart

Kemarin saya hadir pada acara sosialisasi peraturan perusahaan tempat saya bekerja.
Tidak semua bisa hadir dan sayangnya beberapa pimpinan manajemen pun tidak kelihatan batang hidungnya padahal mereka diharapkan bisa memberikan penjelasan dan pendampingan buat anak buah yang sering bertanya soal “aturan main” dan kerap dikecewakan oleh aturan main itu.
Pada slide pertama presentasi seorang Pemimpin SDM (baca: HRD), beliau menampilkan sebuah gambar yang menarik.
Seekor sapi, ayam dan babi berdiri bersebelahan di depan “hasil” mereka.
Sapi diperah susunya, ayam bertelur dan babi.. ups meski saya suka tapi mohon maaf tidak semua orang makan dagingnya.
Gambar ini menarik bagi saya karena menjelaskan bagaimana seorang manusia sebagai karyawan kerap disamakan dengan sapi, ayam bahkan seekor babi.
Kita diperah, dibuat untuk terus bertelur, dan ditunggu hasil daging terbaiknya.
KPI (Key Performance Indicator) yang mulai diterapkan di tempat saya bekerja pun menilai manusia dari sisi kuantitas, angka dan angka.
Berapa banyak susu yang bisa diperah, berapa buah telur yang bisa dihasilkan, dan berapa kilo daging yang bisa dijual.
Lantas mana sisi kualitas yang justru menjadi keunikan dan kelebihan dari seorang manusia.
Membedakan saya dan kita semua dari seekor sapi, ayam dan babi atau sebuah robot.
Jika Google membuat sisi kualitas manusia menjadi menonjol, mempersilahkan keunikan manusia menjadi sumber pendapatan mereka, perusahaan kita ini masih berkutat dengan kuantitas dan menanti angka-angka.
Memang tidak bisa disamakan begitu saja kebiasaan manusia Indonesia dengan orang “Bule” yang sudah memiliki etos kerja berbeda.
Tidak bisa juga dengan mudah kebiasaan orang barat disamakan dengan kebiasaan orang timur atau dicampur aduk.
Tapi manusia tetap manusia, yang perlu disapa, diperhatikan, didengarkan dan diberi penghargaan. Diajak bicara dan diorangkan. Disentuh hatinya, bukan dimenangkan.
Sayangnya menilai kualitas manusia di tempat saya bekerja masih terbatas hanya mengukur angka.
Bagi saya, It’s not about winning the heart. It’s about touching the heart.

2 thoughts on “Touch The Heart

  1. mulai dari hal paling sederhana dan kecil saja terlebih dahulu, lambat laun akan menjadi suatu kebiasaan yang seiring dengan waktu membawa ke perubahan yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s